<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17175289</id><updated>2011-04-22T08:10:29.558+07:00</updated><title type='text'>Hartini Nara</title><subtitle type='html'>Ada banyak cerita, ide, gagasan, konsep yang sering berserakan dan berseliweran kemana-mana. Semoga dengan blog yang sederhana ini ide-ide yang berseliweran itu bisa bermanfaat ketika dibaca oleh siapapun, terutama berkenaan dengan concern saya dibidang pendidikan, psikologi dan anak berbakat. Amin.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hartini-nara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hartini-nara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hartini Nara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07805926176558216868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17175289.post-113273905063487886</id><published>2005-11-23T16:33:00.000+07:00</published><updated>2005-11-23T16:44:10.650+07:00</updated><title type='text'>Indahnya kebersamaan di Musim Gugur dan Belajar dari Peradaban bangsa Jepang 2-20 Nov 2005</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/Bertiga%20di%20danau%20Kawaguchi.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/Bertiga%20di%20danau%20Kawaguchi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/Shabira%20dan%20Uminya%20di%20Tokyo%20Disneyland.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/Shabira%20dan%20Uminya%20di%20Tokyo%20Disneyland.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/Gaya%20Shabira%20di%20sungai%20istana%20kaisar.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/Gaya%20Shabira%20di%20sungai%20istana%20kaisar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/Shabira%20&amp;%20Uminya.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/Shabira%20%26%20Uminya.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/bertiga%20di%20jembatan%20istana%20kaisar.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/bertiga%20di%20jembatan%20istana%20kaisar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Hati menjadi damai dan segalanya menjadi indah ketika kebersamaan di musim gugur ini menjadi kenyataan setelah penantian yang cukup panjang (sejak Juli 2005 tak bersua ). Damai dan Indah dalam kebersamaan di suasana ieudul fitri 1426 H di Tokyo. Keceriaan dan kebahagiaan itu sungguh kami syukuri sebagai anugrah. Kami bersama menikmati indahnya suasana musim gugur 2-20 November 2005 di Jepang. Dari Tokyo Tower, Istana Kaisar, Tokyo University,Tokyo Disneyland, hingga gunung fuji. Thank you Allah. Selain itu saya harus mengakui peradaban bangsa Jepang cukup mengagumkan, ada banyak pelajaran berharga yang saya peroleh ketika bersama suamiku mengelilingi Tokyo dan sekitarnya. Setidaknya berkenaan dengan penghargaan manusia Jepang terhadap sesama dan budaya tertib sosial yang begitu mewatak kuat dalam diri manusia Jepang. Mengenai kebersihan, tradisi riset dan tehnologi enggak perlu ditanya!? Jepang adalah realitasnya. Meski beberapa kelemahan manusia jepang juga saya temukan tetapi kekaguman telah menutupinya. Semoga pelajaran berharga ini bisa saya petik untuk berbagi membangun karakter bangsa indonesia, minimal bagiku dan keluargaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17175289-113273905063487886?l=hartini-nara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hartini-nara.blogspot.com/feeds/113273905063487886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17175289&amp;postID=113273905063487886' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/113273905063487886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/113273905063487886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hartini-nara.blogspot.com/2005/11/indahnya-kebersamaan-di-musim-gugur.html' title='Indahnya kebersamaan di Musim Gugur dan Belajar dari Peradaban bangsa Jepang 2-20 Nov 2005'/><author><name>Hartini Nara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07805926176558216868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17175289.post-112901412144905752</id><published>2005-10-11T13:56:00.000+07:00</published><updated>2005-10-11T14:02:01.463+07:00</updated><title type='text'>Perempuan Dalam Perspektif Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Perempuan dalam Perspektif Pendidikan&lt;br /&gt;                            Oleh : Hartini Nara&lt;br /&gt;=============================================================&lt;br /&gt;Memperbincangkan perempuan dari waktu ke waktu, meminjam istilah remaja saat ini “memang ga ada matinya” tapi yang menarik dalam pengamatan  saya perbincangan mengenai perempuan  menjadi semakin meningkat frekuensinya  ketika menghadapi tiga peristiwa,  pertama memperingati hari Kartini, kedua memperingati hari Ibu,  dan yang ketiga menjelang Pemilihan Umum. Peristiwa yang terakhir untuk  Indonesia baru beberapa tahun ini. Kemudian muncul pertanyaan  mengapa di luar momen-momen tersebut perempuan seakan terlupakan atau lebih tepatnya sedikit mendapat perhatian dan keadaan kembali berjalan seperti semula.&lt;br /&gt;Padahal jika ditelaah lebih jauh masih banyak persoalan yang terjadi di seputar perempuan seperti: kesenjangan dalam bidang pendidikan, dalam bidang  hukum, masih banyak keputusan pengadilan yang belum berpihak pada perempuan, peminggiran perempuan dalam bidang ekonomi, belum lagi jika  mencermati struktur birokrasi di  lembaga  pemerintah maupun swasta. Sangat sedikit  perempuan yang mencapai jenjang pimpinan, bahkan dalam bidang-bidang tertentu hampir tidak ada, Sehingga tidak mengherankan perempuan mengalami subordinasi dalam pengambilan keputusan-keputusan yang bersifat  politis dan strategis.&lt;br /&gt;Kondisi ini bisa terjadi karena sejak kecil laki-laki dituntut untuk memiliki karakteristik tegar, kuat pantang menyerah, dominan agresif, dan percaya diri, dan sejak kecil laki-laki sudah mulai ditumbuhkan kemampuan memimpinnya. Berbeda sekali dengan perempuan yang lebih di arahkan untuk bersikap sebaliknya. Tuntutan  karakteristik seperti itu disebut sebagai karakter gender maskulin (Unger &amp; Crawford, 1992).  Dengan kata lain  lingkungan dan budaya  memang sejak dulu membentuk agar laki-laki menjadi superior dan lebih dominan, dan bukan hal aneh jika  muncul anggapan dalam masyarakat perempuan sebagai second sex, selain dianggap tidak perlu juga kurang pantas untuk menduduki jabatan selaku pimpinan.&lt;br /&gt;Dengan sejumlah fakta persoalan yang ada di sekitar perempuan  rasanya terlalu naif jika ada pendapat yang mengatakan bahwa persoalan kesenjangan gender telah selesai, dan tidak pada tempatnya jika saat ini  kita masih memperbincangkan. Harus diakui bahwa ada kemajuan yang telah dicapai perempuan benar, tetapi dalam banyak hal kesenjangan gender masih terjadi juga benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Perempuan dan Berbagai Persoalan  dalam Perspektif Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya terlebih dulu mempelajari “suasana”  istilah  yang sering digunakan Tan Malaka. Mempelajari “suasana”  harus dilakukan untuk memahami peta persoalan guna memudahkan logika menuntun kita dalam menganalisa dan memprediksi. Dengan kata lain pemetaan atau penggambaran situasi mutlak diperlukan  sebelum melangkah lebih jauh kepada analisa masalah untuk sampai pada tahap kesimpulan, (Nasbi, 2004).&lt;br /&gt; Berbicara mengenai pendidikan  tidak bisa lepas dari landasan hukum yang digunakan. Secara yuridis formal   Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga Negara yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, Artinya undang-undang dasar telah menjamin bahwa seluruh anak bangsa apapun jenis kelaminnya tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, warna kulit, suku dan daerah, juga status sosial memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk  memperoleh pendidikan.&lt;br /&gt;Namun pada kenyataannya  kesenjangan pada sektor pendidikan telah menjadi fakor utama  yang paling berpengaruh terhadap kesenjangan  gender secara menyeluruh, (Suryadi &amp; Idris, 2004). Hal yang menarik dari pernyataan di atas bahwa adanya pengakuan secara jujur dan terbuka  bahwa masih ada kesenjangan gender hampir di semua bidang  dan yang menjadi faktor  utama yang  menyebabkan kesenjangan tersebut adalah  sektor pendidikan.&lt;br /&gt;Pada dasarnya kesenjangan  dalam bidang pendidikan sangat dipengaruhi oleh isi kurikulum yang digunakan. Apple dalam bukunya Ideology and Curriculum menyatakan, Kurikulum yang berlaku sebenarnya  merupakan sarana indroktinasi dari suatu sistem kekuasaan, (Tilaar, 2003). Melalui kurikulum inilah terjadi proses mengekalkan kekuasaan yang ada. Menguasai pendidikan  sama dengan menguasai kurikulum (Tilaar, 2003). Dengan kata lain kurikulum yang ada merupakan cerminan dari siapa sesungguhnya yang membentuk produksi pengetahuan, struktur, isi, dan sirkulasi dari teks dan juga khalayak konsumsi (Wallace 1993, dalam Brooks 1997).&lt;br /&gt;Selanjutnya ketika isi kurikulum  diturunkan  dalam buku-buku teks pelajaran yang digunakan sebagai alat sosialisasi yang sangat efektif, dapat ditemukan sejumlah ketimpangan peran gender. Ini dimungkinkan karena sebagian besar penulis buku-buku pelajaran masih didominasi laki-laki. Jadi tidak mengherankan jika proses pembelajaran hampir di semua jenjang pendidikan menjadi bias laki-laki.&lt;br /&gt;Faktor yang juga menyebabkan ketimpangan dalam pendidikan adalah minimnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan di bidang pendidikan. Kondisi ini terjadi karena kultur birokrasi masih menempatkan perempuan dalam posisi yang peripheral, ini dibuktikan dengan rendahnya jumlah perempuan yang berkedudukan sebagai pejabat struktural, baik itu di tingkat strategis sampai pada tingkat operasional.&lt;br /&gt;Secara konsisten proporsi jabatan kepala sekolah perempuan jauh lebih kecil, dan semakin tinggi jenjang pendidikan jumlah kepala sekolah perempuan semakin menurun. Terlebih pada jenjang pendidikan  tinggi, jabatan Rektor jumlahnya bisa dihitung dengan jari, Kepala Pusat Kurikulum, Dirjen Dikdasmen, Dirjendikti, bahkan Menteri Pendidikan Nasional hanya satu kali dijabat oleh perempuan. Akibatnya, keputusan-keputusan yang diambil kurang mendapat masukan dari perempuan, kebijakan yang diambil cenderung kurang memperhatikan kesetaraan gender (Suryadi &amp; Idris, 2004).&lt;br /&gt;Hal lain yang sangat pentingnya untuk di telaah adalah masalah buta huruf. Meskipun  secara umum  data-data mengenai pendidikan menunjukkan telah terjadi penurunan jumlah penduduk yang buta huruf baik laki-laki maupun perempuan, Tetapi menurut Sensus Nasional tahun 2003  semua  buta huruf untuk kelompok usia 10 tahun ke atas  persentase perempuan buta huruf 12,28 persen. Masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang buta huruf 5,84 persen. Ini berarti bahwa sampai tahun 2003, jumlah persentase perempuan yang buta huruf  dua kali lebih tinggi dibandingkan persentase laki-laki yang buta huruf.&lt;br /&gt;Selain itu data statistik juga  menunjukkan bahwa  pada jenjang pendidikan yang semakin tinggi, partisipasi perempuan cenderung semakin menurun. Partisipasi perempuan dalam jenjang sekolah dasar (SD) 97,86 persen, dan sekolah menengah pertama (SMP) 71,97 persen memang tergolong tinggi. Akan tetapi, partisipasi perempuan dalam jenjang sekolah menengah atas (SMA) 21,06 persen dan pendidikan tinggi, hanya mencapai 10,22 persen (BPS, 2001, dalam Haryati, 2005). Angka-angka tersebut berbicara bahwa, sebagian besar perempuan di Indonesia belum mengenyam pendidikan menengah atas dan pendidikan tinggi. Angka-angka di atas juga bermakna bahwa jumlah perempuan yang tidak memiliki ijasah persentasenya jauh lebih besar dibandingkan laki-laki. Kondisi ini sangat berpengaruh ketika perempuan akan berperan dalam bidang ekonomi dan dunia kerja. Keterbatasan pendidikan yang dimiliki dengan sendirinya akan membuat perempuan terseleksi dan sebagian besar perempuan hanya dapat bekerja sebatas buruh semata yang berimbas pada rendahnya upah yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Dapat Dilakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran perempuan di sektor publik yang masih rendah  bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi hampir di seluruh belahan dunia, termasuk di negara-negara maju. Padahal dunia sudah berubah seharusnya aturan mainpun dapat menyesuaikan. Ke depan kita dihadapkan pada tantangan masyarakat global yang berbasis pada teknologi informasi, dan ditandai persaingan yang semakin ketat dalam semua sektor kehidupan. Penyiapan Sumber Daya Manusia baik laki-laki maupun perempuan yang bisa diandalkan merupakan keharusan, Maka diperlukan kerjasama dan upaya-upaya untuk memperkecil bahkan jika mungkin menghapuskan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dengan berbagai cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Adanya kemauan kuat dari pihak yang sedang berkuasa untuk merubah isi kurikulum agar lebih berwawasan gender, karena kurikulum adalah jantungnya pendidikan, maka dari sinilah diharapkan perubahan setahap demi setahap bisa dilakukan. Pendidikan yang diharapkan adalah pendidikan membebaskan, pendidikan yang mampu menempatkan perempuan sebagai subyek, bukan sebagai obyek yang membuat perempuan tetap inferior (tertindas).&lt;br /&gt;2.      Harus ada kebijakan pemerintah yang mendorong dan memfasilitasi perempuan sehingga mampu mencapai tingkat pimpinan sruktural sehingga berimplikasi pada keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang tidak bias gender.&lt;br /&gt;3.      Pemerintah harus menganggarkan sejumlah dana  pendidikan untuk kaum perempuan dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Dalam rangka mendorong percepatan pendidikan kaum perempuan&lt;br /&gt;4.      Pengarusutamaan program pemberdayaan perempuan dengan proses pendampingan dan mendapat pengawalan ketat dari institusi pemerintah maupun  lembaga swadaya masyarakat.&lt;br /&gt;5.      Mendorong media cetak maupun media televisi agar berperan aktif dalam mengkampanyekan kesetaraan gender di bidang pendidikan untuk memperluas wawasan masyarakat akan pentingnya kesetaraan gender  pada setiap jenis dan jenjang pendidikan  khususnya di wilayah pedesaan.&lt;br /&gt;6.      Program kesetaraan gender melalui pendidikan dipandang sangat efektif dalam proses pembudayaan dan pelembagaan watak masyarakat. Buku-buku pelajaran di semua jenjang pendidikan harus sudah memuat   peran gender secara berimbang. Dengan demikian streotipi gender bisa dieliminir, yang berimplikasi pada tidak adanya wilayah tertentu yang menjadi dominasi laki-laki begitu juga sebaliknya&lt;br /&gt;Sebuah kalimat yang representatif menggambarkan situasi perempuan adalah  bahwa: “Janji kebahagiaan di surga tidak akan menyelesaikan persoalan kemelaratan dan kesengsaraan di dunia, termasuk manusia yang tertindas (baca: kaum perempuan). Perempuanlah yang harus menyelesaikan PR-PRnya. Semoga kita tidak termasuk dalam kategori orang-orang tertindas dalam kesadaran  naif yang  berpendapat ada sesuatu yang salah. Di mana mereka hanya dapat mengidentifikasi, belum bisa melampaui batas dari sekedar menyalahkan individu, dan mereka gagal melihat bahwa kekuatan-kekuatan yang besar dalam sistemlah yang memaksa kaum tertindas sekaligus penindas (Smith, 2001).  &lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Pada akhirnya perjuangan untuk meminimalisir kesenjangan gender bermuara pada keinginan untuk membuat kehidupan ke depan menjadi lebih seimbang, dan menempatkan seseorang sebagai manusia yang memiliki hak untuk memilih peran apa yang akan dimainkan. Bukan didasarkan pada jenis kelamin yang dimilikinya, maupun pagar-pagar budaya yang dibuat oleh masyarakat. Oleh karena itu perempuan tidak perlu melakukan aksi “balas dendam” atau laki-laki yang masih terlihat “setengah hati” untuk berbagi kekuasaan karena begitu khawatir akan  kehilangan hak-hak istimewanya.&lt;br /&gt;Kendati harus diakui ada hal-hal yang  berbeda antara laki-laki dan perempuan secara kodrat. Tetapi tidak dengan sendirinya melegitimasi perbedaan dalam relasi sosial. Perbedaan  ini lebih dipandang sebagai relasi yang komplementer. Sehingga  partisipasi seluruh masyarakat baik laki-laki maupun perempuan mutlak diperlukan tanpa harus menegasikan salah satu pihak, agar  kehidupan yang lebih harmonis dapat terwujud. Harapan  ke depan pendidikan kita tidak hanya "berwarna" laki-laki, namun juga memberi ruang untuk “warna perempuan” bahkan warna-warna yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Brooks, A., (1997) Posfeminisme &amp; Culture Studies, Bandung: Jalasutra.&lt;br /&gt;Haryati, E., (2005) Menerawang Subordinasi Perempuan, Kompas 11 April&lt;br /&gt;Nasbi, H., (2004) Filosofi Negara menurut Tan Malaka, Jakarta: LPDM Tan Malaka.&lt;br /&gt;Smith, W. A.,  (2001) Conscientizacao Tujuan Pendidikan  Paulo Fraire, Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Suryadi, A. &amp;  Idris, E., (2004) Kesetaraan Gender dalam Bidang Pendidikan, Bandung: PT. Genesindo.&lt;br /&gt;Tilaar H.A.R, (2003) Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Kultural, Magelang, Indonesia Tera.&lt;br /&gt;Unger, R., &amp; Crawford, M.(1992) Women and Gender A Feminist Psychology, New York: McGraw-Hill Inc&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17175289-112901412144905752?l=hartini-nara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hartini-nara.blogspot.com/feeds/112901412144905752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17175289&amp;postID=112901412144905752' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/112901412144905752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/112901412144905752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hartini-nara.blogspot.com/2005/10/perempuan-dalam-perspektif-pendidikan.html' title='Perempuan Dalam Perspektif Pendidikan'/><author><name>Hartini Nara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07805926176558216868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17175289.post-112781763750467103</id><published>2005-09-27T17:28:00.000+07:00</published><updated>2005-09-29T06:13:01.466+07:00</updated><title type='text'>Dunia Blog Bagiku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/1600/Yayang%20wisuda%20S2%20Psikologi%20UI.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/4757/1649/320/Yayang%20wisuda%20S2%20Psikologi%20UI.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Dunia blog akhir-akhir ini menjadi trend bagi para pengguna internet. Tidak sedikit yang memanfaatkanya hanya sekedar menulis diary atau semacam unek-unek lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Foto ini diambil saat wisuda S2 Psikologi UI 30 Agustus lalu. Saya mencoba untuk memanfaatkan blog ini untuk mewadahi beberapa hal, baik diary yang mencerahkan maupun gagasan-gagasan yang berkenaan dengan Psikologi, Pendidikan, dan tentang anak berbakat, yang sempat saya pikirkan atau ide yang kadang muncul secara tiba-tiba. Selain itu dengan adanya blog ini setidaknya memudahkan saya untuk berbagi cerita maupun sharing ide dengan siapapun. Semoga ini jalan yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup, baik dihadapan manusia maupun dihadapan Allah. Semoga Allah selalu bersama kita. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17175289-112781763750467103?l=hartini-nara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hartini-nara.blogspot.com/feeds/112781763750467103/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=17175289&amp;postID=112781763750467103' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/112781763750467103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17175289/posts/default/112781763750467103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hartini-nara.blogspot.com/2005/09/dunia-blog-bagiku.html' title='Dunia Blog Bagiku'/><author><name>Hartini Nara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07805926176558216868</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry></feed>
